MekahAkhirnya, pemerintah Indonesia mengakui, bahwa vaksi meningitis yang disuntikkan pada tubuh jamaah haji Indonesia terbuat dari enzim babi. Artinya, selama bertahun-tahun musim haji, tubuh ratusan ribu jamaah haji dan umrah dari Indonesia dicemari vaksin haram. Tapi, pemerintah Arab Saudi belum menunjukkan kepeduliannya, apakah akan mengganti vaksi haram itu dengan vaksin halal. Penguasa kerajaan petro dollar itu sedang sibuk mendandani Makkah masa depan.

MAKKAH AL MUKARRAMAH yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis. Ka’bah yang terletak di tengah Masjid Haram dan menjadi kiblat sholat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung pencakar langit.

Kota Makkah sedang menyongsong masa depan. Renovasi Masjid Al Haram sedang berlangsung spektakuler. Areal thwaf di sekitar Ka’bah ditutup dengan pelindung, puluhan apartemen pencakar langit sedang diselesaikan, hotel-hotel bintang lima sedang ditambahkan, mal-mal baru dikebut, jalur kereta cepat dari Jeddah dipersiapkan langsung sampai ke Al Haram. Monorel dibangun untuk menghubungkan jalur 3M (Makkah-Muzdalifah-Mina), kereta cepat dipersiapkan untuk menghubungkan Jedah-Makkah-Madinah.
Bangunan-bangunan bersejarah dibongkar karena berbagai alasan pragmatis, bukan agamis. Namun, sebagian besar karena ingin menyesuaikan dengan kota-kota besar di dunia. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah kediaman Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah Saw berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta meninggalnya ummul mukminin Khadijah ra.

Dan banyak lagi: terowongan, terminal, gedung parkir, plaza, eskalator perkotaan, pertamanan, semua serba baru. Dua tahun lagi, 2010, sebagian proyek raksasa itu diperkirakan selesai, dan pembangunan sempurna pada 2020.

Penataan Makkah kali ini dilakukan secara total, terencana, dan tidak tambal sulam. Pembuatan konsep perencanaannya saja memerlukan biaya Rp 100 miliar. Kali ini, perubahan Makkah super modern, dirancang untuk memenuhi kebutuhan tiga ratus tahun ke depan. Kabarnya, seluruh arsitek dan ahli bangunan Timur Tengah di kumpulkan untuk melakukan rancang bangun kota suci Makkah.
Tidak boleh ada sedikit pun yang menghambat. Bangunan yang masih baru pun harus dibongkar. Gunung batu yang keras diiris, dipotong, dan digali. Peninggalan sejarah tidak dipedulikan, sehingga situs-situs purbakala, peninggalan Islam dilenyapkan. Protes tidak dilayani, termasuk dari pemerintah Turki yang mempersoalkan dihancurkannya benteng Ajyad. Inilah benteng yang dibangun pada 1775 yang sangat berjasa dalam mempertahankan Kota Makkah. Yakni, benteng yang dibangun ketika Makkah masih di bawah pemerintahan Turki Otsmani.

Pokoknya, apa pun yang berada di atas tanah seluas 23 hektare itu harus dikosongkan. Mulai Makkah Hotel, kanan kirinya sampai ke belakang. Kawasan ini mencakup wilayah Jabal (Gunung) Omar, berupa gunung batu yang sangat keras.
Selama ini di lereng-lereng dan di atas gunung itu penuh dengan bangunan rumah, bila musim haji tiba sangat laris disewakan. Jamaah haji pun harus turun naik gunung ketika pergi atau pulang dari masjid. Tentu juga harus melewati lorong-lorong kecil yang menanjak dan menikung.

Semua bangunan itu sudah digusur sejak empat tahun lalu. Di situlah akan dibangun perumahaan modern, berupa apartemen pencakar langit sebanyak 40 tower (menara). Menara-menara itu dijajar kiri kanan dalam posisi seperti setengah melingkar. Di antara dua jajaran tower itulah disediakan ruang kosong yang bisa dipakai shalat untuk 200.000 orang. Pengeras suara tersambung dengan pengeras suara Masjid Al Haram.

Di areal ini juga dibangun pertokoan, termasuk show room. Sekitar 4.500 toko tersedia di situ, juga 3.000 show room. Kendaraan yang bisa ditampung mencapai 12.000 unit, satu penambahan yang luar biasa dibanding tempat parkir sekarang yang hanya muat 570 mobil. Di ujung superblok ini dibangun satu “pintu gerbang” berwujud gedung pencakar langit kembar, seperti di Kuala Lumpur, masing-masing 50 tingkat.

Bila rencana kawasan 23 hektare ini sudah selesai, maka berada di plaza ini akan merasakan sensasi religius luar biasa. Menghadap dan memandang ke kebagungan Masjid Al Haram yang letaknya agak di bawah sana. Bila malam tiba, tentu lebih menakjubkan karena pencahayaan lampunya yang seperti tanpa batas. Proyek Jabal Omar, mungkin terasa lebih menjulang daripada Masjidil Haram. Namun, karena desainnya yang menjadi satu kesatuan, tidak akan ada kesan pembandingan seperti itu. Jabal Omar juga bisa disebut bagian dari Masjid Al Haram.

Seluruh biaya untuk membangun kawasan 23 hektar ini saja sekira Rp 250 triliun. Yang membangun adalah perusahaan swasta bernama Jabal Omar Development Company (JODC). Untuk merealisasikan proyek ini, perusahaan itu langsung go public di bursa saham Arab Saudi.

Waktu masuk pasar modal, yang menjadi underwriter adalah sebuah anak perusahaan bank swasta setempat, Al Bilad. Auditornya adalah perusahaan keuangan Amerika Serikat, Ernst & Young. Sebanyak 30 persen saham perusahaan ini dilepas di pasar modal. Sisanya milik beberapa pengusaha terkemuka, seperti Abdul Rahman Faqeeh dan Bin Laden.

Faqeeh juga dikenal sebagai pengusaha pertama dan terbesar yang bergerak di bidang rumah potong hewan dan ayam. Belum lama ini Faqeeh membangun rumah potong ayam besar-besaran. Empat buah sekaligus di empat kota. Ini karena ada aturan baru di Arab Saudi (bahasa Mandarinnya: shada alabo) tidak boleh lagi mengangkut ayam hidup dari satu kota ke kota lain.

Meski harus berhenti selama musim haji hari-hari ini, proyek Jabal Omar benar-benar dikebut. Kontraktor readymix-nya, misalnya, sampai harus membangun dua pabrik pencampur semen sekaligus, khusus untuk melayani satu proyek ini saja. Maklum, proyek ini sehari saja memakan semen yang sudah diaduk kerikil 11.000 ton. Sang kontraktor juga harus mampu mengirim semen adukan itu secara konstan 24 bulan penuh.

Tentu bisa dibayangkan, dengan wajah Makkah yang baru seperti itu. Apakah masih akan ada tempat bagi orang-orang dari Indonesia yang selama ini naik haji sambil berjualan nasi bungkus dari satu pondokan ke pondokan yang lain. Dan, kalau monorel 3M sudah berjalan, bagaimana nasib para penjual teh susu atau kopi di sepanjang jalan yang menghubungkan tiga wilayah itu, yang umumnya juga dari Indonesia?

Juga tidak tahu lagi di mana tempat para pedagang kaki lima yang selama ini menawarkan barang apa saja dengan berteriak: fatimah, khamsah real, khamsa real! (Ibu, lima riyal, Ibu lima riyal!).(arb/s.med) dikutip Oleh SuaraMedi.com
las vegas mekah

Las Vegas Timur Tengah

“Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas,” begitulah pernyataan yang dilontarkan Ali al-Ahmad, direktur Institute for Gulf Affairs-lembaga riset oposisi Saudi- yang berbasis di Washington, melihat perkembangan kota suci Makkah saat ini.
Menurutnya, perkembangan kota Makkah sekarang adalah sebuah bencana. “Hal ini akan memberikan pengaruh buruk bagi umat Islam. Ketika mereka ke Makkah mereka tidak punya perasaan apapun, tidak ada keunikan lagi. Apa yang anda lihat cuma semen dan kaca, ” ujar Ahmad serius.

Ahmad cukup beralasan melontarkan pernyataannya itu, karena kota Makkah saat ini makin penuh dengan bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel, pusat perbelanjaan dan toko-toko besar yang menjual produk Barat. Sebut saja kedai kopi Starbucks, Cartier and Tiffany, H&M dan Topshop

Pusat perbelanjaan Abraj Al-Bait ( http://www.abrajalbait.com/ ), salah satu mall terbesar di Saudi yang baru dibuka menjelang musim haji bulan Desember 2006 kemarin, nampak megah dengan monitor-monitor televisi flat, cahaya lampu-lampu neon, dengan pusat hiburan, resto-resto cepat saji, bahkan toko pakaian dalam.

Pusat perbelanjaan itu, nantinya juga akan dilengkapi dengan kompleks hotel yang menjulang tinggi. Bahkan kompleks bangunan yang rencananya selesai tahun 2009 nanti, akan menjadi gedung tertinggi ketujuh di seluruh dunia, dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit dan tempat sholat yang luas.

Seluruh pegunungan di dekat Jabal Omar, kini sudah diratakan. Di lokasi itu juga akan dibangun kompleks hotel dan lebih dari 130 gedung-gedung tinggi baru.
“Ini adalah akhir dari Makkah,” kata Irfan Ahmad dari London, pendiri Islamic Heritage Foundation, yang secara khusus aktivitasnya mempertahankan peninggalan-peninggalan bersejarah di Makkah, Madinah dan tempat-tempat lainnya di Arab Saudi.
“Sebelumnya, bahkan pada masa Ustmani, tak satu pun gedung-gedung di Makkah yang tingginya melebihi tinggi Masjid Haram. Sekarang, banyak gedung yang lebih tinggi dari Masjid Haram dan tidak menghormati keberadaan masjid itu, ” tukas Irfan.
Uang, tentu saja menjadi motivasi utama boomingnya gedung-gedung tinggi di Makkah. Karena setiap tahun, kota itu dibanjiri oleh para jamaah haji. Papan-papan iklan di sepanjang jalan menuju Makkah, seolah menjadi daya tarik bagi para investor yang mencari keuntungan dari usaha penginapan.

Sejumlah organisasi Islam mengatakan, berdirinya gedung-gedung megah di kota Makkah, juga dilatarbelakangi motif agama. Mereka menuding pemerintah Saudi mengizinkan kelompok konservatif untuk menghancurkan tempat-tempat bersejarah dengan alasan khawatir tempat itu justeru disembah-sembah oleh para pengunjung.

Ahmad dari Islamic Heritage Foundation mengaku punya kalatog lebih dari 300 tempat-tempat bersejarah di Arab Saudi, termasuk pemakaman dan masjid-masjid. Ia mengatakan, sebuah rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan dihancurkan untuk membangun tempat kamar mandi.

“Sama sekali tidak menghormati Kabah, tidak menghormati rumah Tuhan atau lingkungan dari tempat-tempat bersejarah itu,” kata Sami Angawi, seorang arsitek Saudi yang ingin mempertahankan peninggalan bersejarah di Makkah.
“Padahal, memotong pohon saja seharusnya tidak boleh dilakukan di kota ini,” sambungnya.

Kemajuan kadang memang harus dibayar mahal. Bahkan pasar malam, di mana para jamaah bisa menjual barang-barang yang dibawanya, kini sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan keluarga-keluarga di Makkah yang biasa menyambut para jamaah haji, sudah tidak terlihat lagi sejak rumah-rumah mereka digusur untuk perluasan Masjidil Haram di era tahun 1970-an.

Angawi kini berusaha melakukan pendekatan pada kerajaan Arab Saudi agar memberi perhatian besar atas penghancuran tempat-tempat bersejarah. Ahmad melobi pemerintah-pemerintah negara Asia dan Arab untuk menghentikan penghancuran yang dilakukan pemerintah Saudi. Kedua tokoh ini menyayangkan kurangnya kepedulian umat Islam atas isu-isu ini. Kepentingan bisnis dan uang mengalahkan segala-galanya.

“Makkah tidak belum pernah berubah seperti sekarang ini. Apa yang anda lihat sekarang baru 10 persennya saja dari apa yang sudah direncanakan, yang akan jauh lebih buruk lagi, ” kata Angawi risau. (arb/s.med/dikutip dari berbagai sumber)