Sudah lebih 64 tahun, sejak Indonesia merdeka hingga menjelang Pilpres tahun 2009 ini, hampir semua tokoh Indonesia, baik yang sekuler maupun religius selalu mengedepankan jiwa nasionalisme sebagai alat penyulut semangat berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Keyakinan ini telah membentuk sikap dan prilaku manusia Indonesia, sehingga setiap kebersamaan yang ditunjukkan rakyat dalam menghadapi kondisi krisis selalu diklaim sebagai jasa dan semangat nasionalisme.

MENGAWALI tahun 2009, selain kasus korupsi, ada dua peristiwa bencana yang paling banyak menyita perhatian publik nasional dan internasional. Namun luput dari analisis dan pengamatan para pakar, sehingga kurang terdengar adanya ulasan yang dapat memberikan pencerahan bagi para pemimpin dan rakyat Indonesia.

Pertama, bencana alam di dalam negeri, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, kapal tenggelam, angin puting beliung, jatuhnya pesawat terbang, dan yang paling baru adalah tragedy air bah Situ Gintung, 27 Maret 2009 yang menewaskan hampir seratus orang. Kesemua musibah ini, dari tahun ke tahun, telah mengakibatkan korban harta dan nyawa yang sangat spektakuler. Kedua, bencana kemanusiaan yang amat dahsyat, ditimpakan ke rakyat Muslim di Jalur Gaza; dilakukan oleh zionis Israel tanpa ada kekuatan manapun di dunia sekarang ini yang mampu dan mau menghentikan kebiadabannya.

Kedua bencana hebat ini, ternyata tidak mendapatkan respons yang adil dan seimbang, khususnya dari publik Indonesia. Pembantaian rakyat Palestina di Gaza oleh Dajjal Zionis Israel (Desember 2008) mampu mengharu-biru sentimen keagamaan rakyat Indonesia, terutama umat Islam. Agresi keji zionis Isreal, juga mampu membangkitkan solidaritas kemanusiaan, sehingga menggerakkan demonstrasi anti Israel dan Amerika secara besar-besaran hampir di seluruh pelosok tanah air.

Keberhasilan pengumpulan dana secara spontan dan serentak sangat mengagumkan dunia. Padahal, pada saat bersamaan rakyat Indonesia sedang ditimpa berbagai bencana, tapi ternyata punya kepedulian luar biasa terhadap penderitaan sesama Muslim di Jalur Gaza. Sementara bencana yang terjadi di dalam negeri, dengan korban yang tidak kalah dahsyatnya, hanya direspons seadanya, itu pun oleh masyarakat lokal saja.

Lalu, apa sebenarnya yang menjadi misteri di balik solidaritas Palestina yang luar biasa ini? Sementara solidaritas domestik nyaris tidak tampak terhadap sesama rakyat Indonesia yang sedang diharu-biru bencana alam.

Sebab, pembantaian biadab yang dilakukan zionis Israel di Jalur Gaza merupakan penindasan terhadap kemanusiaan, sehingga sudah pasti membangkitkan kemarahan nurani manusia sedunia. Kenyataannya, bukan hanya komunitas Muslim di dunia yang menunjukkan kemarahan terhadap Zionis Israel, dan juga Amerika yang tidak mempedulikan tuntutan internasional untuk menghentikan pembantaian pada anak-anak, wanita dan orang-orang sipil yang lemah. Tetapi juga komunitas Non Muslim seperti Negara Bolivia dan Venezuela. Sekalipun kedua Negara ini tidak punya hubungan histories maupun ideologis dengan Palestina, mereka langsung memutuskan hubungan diplomatik dengan rezim zionis di Tel Avif.

Apabila itulah jawabannya, memang standard tanpa perlu analisis dan pemikiran mendalam. Namun, adanya respons yang luar biasa dari rakyat Muslim Indonesia terhadap tindakan genocide Israel di Gaza, justru pada saat sebagian rakyat Indonesia sendiri terkungkung oleh bencana dan malapetaka. Inilah yang perlu dikaji secara obyektif, agar para pemimpin Indonesia memperoleh wawasan baru dalam mengelola dan memimpin bangsanya yang mayoritas beragama Islam ini.

Sentimen Nasionalisme

Ketika menghadapi bencana hebat yang akrab dengan dirinya, mengapa rakyat Indonesia selalu saja sulit membangkitkan solidaritas dan kesetiakawanan sosial? Solidaritas sosial yang ditunjukkan rakyat Indonesia, dalam beberapa peristiwa bencana seperti Tsunami di Aceh tahun 2004, mungkin suatu pengecualian. Adapun bencana-bencana lain yang terus bermunculan di berbagai daerah, hingga kini tidak tampak adanya solidaritas sosial yang signifikan terhadap para korban bencana. Termasuk dalam mengatasi krisis moral, politik, ekonomi, dan keamanan, semangat nasionalisme agaknya sudah tidak berdaya guna lagi. Apakah nasionalisme berarti sudah kehabisan energi vitalitasnya?

Pertanyaan lain yang penting diajukan, mengapa sentimen nasionalisme tidak dapat digerakkan untuk memotivasi dan menjadi kekuatan jiwa dalam menanggulangi derita sebagian korban bencana oleh sesama rakyat Indonesia lainnya? Mengapa para tokoh dan pemimpin Indonesia tidak menggunakan sentimen nasionalisme untuk menggugah kesadaran rakyat, menolong saudaranya yang menjadi korban bencana alam? Apakah sentimen nasionalisme itu hanya slogan atau iklan propaganda untuk mengalihkan hakekat sebenarnya dari sentimen yang sungguh-sungguh berakar dalam lubuk hati rakyat Indonesia?

Realitas yang kita hadapi sama sekali tidak mendukung adanya hipotesis, bahwa nasionalisme lah yang berjasa mengawal rakyat Indonesia dalam menghadapi kesulitan. Kasus-kasus korban banjir, gempa bumi dan semburan lumpur Sidoarjo tetap kesulitan mendapatkan bantuan sosial yang adil dan mencukupi kebutuhan mereka dari sesama rakyat Indonesia sendiri.

Bandingkan dengan ‘sentimen agama’ dalam tragedi Jalur Gaza, yang mampu menggugah kesadaran iman, tanpa dikungkung perasaan nasionalisme. Bahkan solidaritas Islam terhadap saudara Muslim di Gaza, tidak juga menghambat ‘sentimen kemanusiaan’ dari publik internasional. Terhadap realitas yang membayang di pelupuk mata ini, apakah yang dapat dipetik sebagai hikmah, baik dari kalangan nasionalis religius maupun sekuler?

Barangkali ada yang bertanya, jika benar sentimen agama lebih kuat daripada sentimen nasionalisme untuk membangkitkan jiwa tolong menolong dikala terjadi bencana. Mengapa sentimen agama tidak mampu membangkitkan solidaritas Muslim Arab untuk membela saudara Muslim dari kebiadaban zionis Israel? Benarkah ajaran agama dapat membangkitkan solidaritas sosial dan memperkuat semangan nasionalisme sekaligus, sementara nasionalisme sendiri mematikan atau setidaknya melemahkan solidaris agama, sosial dan kemanusiaan?

Ada dua hal yang perlu dicermati untuk menjawab pertanyaan di atas. Yaitu, penguasa Negara dan rakyat Arab sendiri. Solidaritas rakyat Muslim di Arab sangat mengagumkan yang dibuktikan dengan besarnya demo mengutuk Israel, dan semangat jihad ke Gaza melawan Israel. Namun, respon para penguasa Arab seperti Mesir, Yordania, juga Siria dan Arab Saudi, justru tunduk pada agenda asing seperti Amerika dan Inggris. Bahkan para penguasa ini memandang sikap rakyatnya menjadi ancaman bagi kekuasaan mereka. Demonstrasi rakyat Muslim secara besar-besaran dengan jelas ditayangkan oleh televisi Aljazeera selama Israel melakukan kebiadaban di Gaza. Adapun penguasanya, justru repot menghadapi rakyatnya, karena rezim nasionalis Mesir, Yordania, dan Kerajaan Saudi Arabia mengindikasikan terjebak dalam jaringan zionisme internasional.

Solidaritas Islam

Bandingkan dengan Islam, agama yang membawa misi rahmatan lil alamin. Dalam keyakinan Islam, semua manusia sama sebagai hamba Allah, yang membedakannya adalah taqwanya. Deklarasi kemanusiaan ini dikemukakan oleh Rasulullah Saw dalam khutbah hajji wada’.

“Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhan kalian satu yaitu Allah dan bapak kalian satu yaitu Adam. Karena itu orang Arab tidak lebih mulia dari non-Arab dan non-Arab tidak lebih mulia dari Arab, kulit putih tidak lebih mulia dari kulit hitam dan kulit hitam tidak lebih mulia dari kulit putih. Tetapi yang paling mulia adalah yang paling taqwa kepada Allah Swt.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad).

Ajaran ini menegaskan bahwa Islam tidak mengkotak-kotakkan manusia dalam batas-batas teritorial Negara, nasionalisme (paham kebangsaan), dinasti dan lain sebagainya. Tetapi menempatkan manusia secara utuh sebagai hamba Allah. Berdasarkan prinsip ini maka solidaritas Islam pasti menyuburkan dan membangun solidarits kemanusiaan, baik bersifat lokal, regional maupun global. Oleh karena itu solidaritas berdasarkan jiwa Islam akan menjadikan solidaritas yang bersifat lokal dan regional dapat hidup lebih subur dan lebih kuat, sebagaimana firman Allah Swt:

“Carilah kebahagiaan akherat dengan segala karunia yang Allah berikan kepadamu di dunia, dan berlaku baiklah kepada sesama manusia sebagaimana Allah telah memperlakukan kamu dengan baik. Sungguh Allah mencintai manusia yang suka berlaku baik.” (Qs. Al-Qashash 28:77).

Kecurigaan kaum nasionalis terhadap semaraknya solidaritas Islam, dengan memandangnya sebagai ancaman bagi eksistensi sebuah bangsa dan Negara, menunjukkan kesempitan berfikir dan kedangkalan wawasan. Solidaritas luar biasa rakyat Muslim Indonesia terhadap korban pembantaian Zionis Israel di Gaza, termasuk pembantaian rakyat Iraq, Afghanistan, Chesnya oleh tantara Amerika dan sekutunya, jelaslah bukan didorong oleh semangat nasionalisme atau sekadar semangat kemanusiaan. Sebab sentimen yang ditunjukkan oleh ratusan ribu rakyat Muslim Indonesia bukan sekadar bantuan materi kepada rakyat Palestina di Gaza, tapi juga kesediaan mereka untuk berperang melawan Israel di bawah panji-panji jihad fi sabilillah.

Solidaritas iman yang ditunjukkan seorang muallaf, Yvonne Ridley (46) lahir di Stanley, kota Durham Inggris 1959, wartawati-feminis Inggris, yang pernah bekerja di Sunday Express, koran terbitan Inggris, adalah salah satu bukti. Pada September 2001 lalu diselundupkan dari Pakistan ke perbatasan Afghanistan untuk melakukan tugas jurnalistik. Namun penyamarannya terbongkar dan menjadi tawanan Taliban yang pada akhirnya mengantarnya kepada hidayah Islam, dan kini beliau menjadi salah seorang pembela Islam di Inggris.

Pada 30 November 2006, di Global Peace & Unity Conference, London, Yvonne Ridley menyampaikan cermahnya yang heroik. “Tahukah Anda, 5 tahun lalu, saya sama sekali tidak tahu siapa Nabi Saw itu. Namun, sekarang saya bersedia mengorbankan tetes darah terakhir saya untuk membela nama, kehormatan dan kenangan tentang beliau. Bahkan setelah wafat, beliau menunjukkan dirinya mampu menyatukan Ummah dalam protes terhadap karikatur jahat dari Denmark itu,” katanya bersemangat.

Kenyataan ini tidaklah terbayangkan oleh para pengamat yang semata-mata menangkap realitas sebagai persoalan kemanusiaan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh rakyat Bolivia dan rakyat Venezeula. Menganggap sentimen agama sebagai sesuatu yang berbahaya bagi persatuan dan kesatuan, menjadi terbantahkan dengan sendirinya.

Oleh karena itu, harus ada sudut pandang lain yang digunakan untuk memahami fenomena solidaritas rakyat Indonesia terhadap kaum Muslim Gaza yang menjadi korban pembantaian zionis Israel. Pandangan dimaksud ialah motivasi keagamaan yang masih sangat kuat berakar di dada rakyat Muslim Indonesia. Dengan memahami hal ini dari sisi psikologi politik maupun psikologi sosial dapat menyadarkan orang-orang yang menjadi pemimpin Negara maupun partai-partai di Indonesia, bahwa pada hakekatnya motivasi keagamaan rakyat Indonesia jauh lebih hebat daripada setimen nasionalisme. Sekalipun sentimen keagamaan ini telah puluhan tahun diupayakan untuk dipupus dari jiwa rakyat Indonesia sebagaimana dilakukan Soekarno dengan Nasakomnya dan Soeharto dengan Asas Tunggalnya. Tapi jiwa agama tidak akan mati di dada manusia yang meyakini adanya hari pertanggungan jawab di akhirat nanti.

Fakta-fakta ini seharusnya menyadarkan para pemimpin dan tokoh Indonesia pasca Orde Baru, terutama para tokoh partai-partai yang berbasis Islam. Sebab konstituen Muslim Indonesia bila tidak diberdayakan keyakinan dan cita-citanya oleh partai-partai berbasis Islam sebagaimana selama ini terjadi, maka tidak mustahil konstituen Muslim Indonesia abstain dari pemilu legislatif 2009 sebagai bentuk protes akibat sikap hipokrit dan ambivalen para tokoh-tokoh partai.

Maka, sangat logis bila partai-partai berbasis Islam secara terbuka menyatakan diri sebagai penegak cita-cita Islam di Indonesia, melebihi keberanian pihak nasionalis mendeklarasikan dirinya sebagai penegak cita-cita nasionalisme.