“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al-Anbiya: 107). Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT mengutus Muhammad tidak lain kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta. Artinya, Syari’at Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW bila diterapkan, pasti akan memberikan kebaikan (rahmah) bagi semua.

Mengatur Semua Warga

Syari’at Islam ditetapkan Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia sehingga memberikan kerahmatan bagi semua elemen masyarakat karena Islam adalah risalah yang diturunkan Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Nabi Muhammad SAW pun diutus Allah bukan hanya kepada umat Islam, melainkan kepada dan untuk seluruh manusia. Dengan demikian, anggapan bahwa penerapan Syari’ah Islam hanya dapat dilakukan pada masyarakat yang seluruhnya Muslim adalah tidak tepat. Syari’ah Islam pasti bisa diterapkan sekalipun dalam masyarakat heterogen, karena Syari’ah Islam memang diturunkan untuk mengatur seluruh umat manusia.

Dalam masyarakat Islam, yakni masyarakat yang di dalamnya diterapkan Syari’ah Islam, warga  non-Muslim tetap mendapatkan kebebasan dalam memilih agama yang akan dipeluknya karena memang Allah SWT tidak memaksa setiap orang untuk masuk Islam, sekaligus kebebasan untuk mengikuti ketentuan agama masing-masing sepanjang menyangkut masalah-masalah aqidah dan ibadah. Sementara menyangkut muamalah, baik masalah politik, ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan, tanpa kecuali, seluruh anggota  masyarakat, baik muslim maupun non muslim, semuanya harus tunduk pada Syari’ah Islam. Syari’ah ditetapkan sebagai hukum yang mengatur interaksi antar seluruh komponen anggota masyarakat. Dengan cara itu, kebaikan Syari’ah Islam akan dirasakan oleh semua anggota masyarakat.

Ketika Islam menetapkan sebuah sistem ekonomi yang berlandaskan pada prinsip syari’ah, maka sistem itu adalah untuk seluruh masyarakat tanpa memandang muslim ataupun non muslim. Ketentuan larangan riba dan judi serta penggunaan mata uang dinar dan dirham misalnya, akan membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara nyata (bukan semu seperti dalam sistem ekonomi kapitalis yang ditopang oleh kegiatan ekonomi ribawi dan perjudian sebagaimana tampak dalam perdagangan saham dimana keduanya menghasilkan buble economy yang sangat rentan terhadap gejolak). Dan stabil, karena bertumpu pada kegiatan ekonomi riil serta ditopang oleh mata uang yang juga benar-benar kuat dan tidak mudah mendapat tekanan inflasi serta  depresiasi. Atau ketentuan  Islam bahwa komoditas milik umum seperti minyak, hutan, gas alam, emas dan barang mineral lain adalah milik umum dan karenanya harus dikelola hanya oleh negara dan hasilnya diberikan kepada seluruh rakyat, baik secara langsung dalam bentuk barang yang murah atau tidak langsung melalui berbagai pelayanan yang diperlukan oleh rakyat seperti pendidikan dan kesehatan, akan membuat rakyat merasakan manfaat dari kekayaan sumberdaya alam yang dimilikinya. Pertumbuhan ekonomi yang nyata dan stabil akan menghasilkan kesejahteraan bagi semua dan memupus jurang atau ketimpangan sosial-ekonomi diantara anggota masyarakat seperti yang biasa terjadi dalam sistem kapitalis.  Kebaikan dari sistem ekonomi seperti ini akan dirasakan oleh semua anggota masyarakat baik muslim maupun non muslim.

Sistem ekonomi yang ada sekarang, bukan saja tidak mampu menyelesaikan masalah tapi malah dari waktu ke waktu justru menciptakan  masalah. Lebih dari tiga puluh tahun memimpin Indonesia, kapitalisme – terlepas dari para birokrat negeri ini yang juga bermental korup – membuat lebih dari 100 juta orang jatuh ke jurang kemiskinan, lebih dari 40 juta pengangguran, jutaan anak-anak terpaksa putus sekolah, sementara utang negara makin menumpuk, pajak kian mencekik leher, beban hidup makin berat karena harga barang-barang terus merangkak naik, sementara  subsidi untuk BBM dan listrik akan terus dikurangi. Semua akibat buruk tersebut menimpa seluruh rakyat baik muslim maupun non muslim. Pertanyaannya, siapa yang merasa suka dengan sistem yang menghasilkan keburukan-keburukan seperti itu?

Begitu juga ketika Islam menetapkan sebuah sistem pendidikan bermutu yang tegak berlandaskan pada paradigma Islam dimana pendidikan diorientasikan pada pembentukan kepribadian, penguasaan tsaqofah dan penguasaan sains teknologi, yang diselenggarakan  tanpa biaya atau berbiaya murah, semua itu dapat dinikmati baik oleh warga muslim maupun non-muslim. Sistem pendidikan sekuler yang amburadul, mahal dan tak jelas arahnya sekarang ini menghasilkan sosok manusia yang  diragukan kualitasnya, terlihat dari  maraknya perkelahian pelajar, seks bebas dan penyalahgunaan narkoba. Siapa pun, muslim maupun non muslim, pasti tidak  merasa nyaman dengan kondisi sistem pendidikan seperti ini.

Sementara, kemampuan sistem Islam menjaga keamanan, jiwa, harta dan kehormatan melalui penerapan hukuman (uqubat) Islam dimana para pelaku pencurian, perampokan termasuk koruptor, pezina, peminum minuman keras, pembunuh dan pelaku tindak asusila akan dihukum secara setimpal, akan membuat kriminalitas dan segala penyakit sosial akan turun drastis atau dapat ditekan seminimal mungkin. Semua kebaikan ini tentu akan dapat dinikmati, baik oleh muslim dan non muslim, termasuk para pelaku tindak kejahatan karena hukuman (uqubat) di dunia akan menjadi tebusan (kafarat) bagi hukuman di akherat yang jauh lebih berat. Kebaikan seperti itu tidak mungkin dimiliki oleh sistem hukum sekuler. Hukuman yang ada bahkan terbukti telah gagal melindungi warga masyarakat. Akibatnya, nyawa mudah sekali melayang, harta dan kehormatan dapat sewaktu-waktu terancam, kriminalitas meningkat dimana-mana, pornografi, pelacuran dan penyalahgunaan narkoba menjadi menu sehari-hari. Siapa yang merasa nyaman hidup dalam suasana seperti itu?

Kapitalisme, di satu sisi memang menghasilkan kemajuan material lebih dari yang bisa diberikan oleh sosialisme, tapi di sisi lain sistem ini telah menciptakan kondisi yang dalam banyak hal justru bertentangan dengan hakikat eksistensi hidup manusia di dunia, yakni kesenjangan ekonomi, kehidupan materialistik dan proses dehumanisasi. Kehidupan materialistik adalah kehidupan yang hanya diorientasikan kepada pencapaian materi belaka. Ketika untuk mencapai perolehan materi manusia tidak lagi mengindahkan ketentuan halal dan haram, bahkan rela menempuh segala cara meski itu merendahkan harkat dan martabat dirinya sebagai manusia, terjadilah proses dehumanisasi atau proses penidakmanusiaan manusia. Manusia telah menjadi penghamba uang. Uang telah menjadi tuhan baru menggantikan Rabb yang semestinya disembah. Dengan prinsip survival of the fittest dimana the might is right membuat yang kaya makin kaya dan yang miskin makin tersingkir. Maka, kesenjangan ekonomi yang demikian lebar di tengah masyarakat  adalah akibat logis belaka dari sistem kapitalisme.

Syari’ah Islam akan menghentikan itu semua. Kemajuan material tidak dihalangi sepanjang didapat melalui jalan yang benar dan dikembangkan dalam sistem yang sesuai dengan syari’ah. Hasilnya, kemajuan material bisa dicapai, kepuasan spiritual tak terabaikan dan keadilan sosial bisa diujudkan. Manusia akan tumbuh menjadi makhluk yang mengabdi kepada Sang Khaliq semata, hidup  sejahtera, bahagia lahir dan batin, baik secara individual maupun komunal. Pengabdian kepada Allah tetap bisa diujudkan di tengah gemerlap kemajuan material, karena semua tatanan berjalan sesuai dengan syari’ah.

Melindungi Warga Non-Muslim

Dalam sejarah peradaban Islam, bisa dikatakan tidak pernah penerapan syari’ah dilakukan hanya dalam masyarakat homogen atau yang seluruh warganya Muslim. Masyarakat yang berhasil dibentuk di Madinah di awal perkembangan Islam misalnya, atau di Irak dan Mesir pada perkembangan selanjutnya, selalu ada di dalamnya warga non-Muslim. Islam memang tidak memaksa orang untuk memeluk aqidah Islam. Maka, sekalipun dalam masyarakat Islam seperti saat Rasulullah memimpin di Madinah atau ketika Islam telah berkembang sampai ke Irak atau Mesir, hidup dengan damai di tengah-tengah masyarakat Islam, warga non-muslim sebagai ahl-dzimmah dimana harta, jiwa dan kehormatan mereka dilindungi. Siapa saja yang mencederai mereka, mengambil hartanya atau menodai kehormatannya akan dihukum setimpal kendati pelakunya beragama Islam.

Dalam hal ini, ahl-dzimmah diperlakukan sama dengan warga muslim. Andai Islam tidak memiliki ketentuan yang gamblang tentang bagaimana memperlakukan warga non-muslim dan perilaku orang-orang Islam katakanlah seperti serdadu Serbia yang membantai secara sadis warga Bosnia, niscaya tidak akan terlahir mantan Sekjen PBB, Boutros Boutros Ghali, anak keturunan suku Koptik di Mesir yang beragama Kristen dan Deputi PM Irak, Thariq Azis, yang juga beragama Kristen, karena nenek moyangnya keburu habis dibantai. Spanyol yang selama sekitar 800 tahun dikuasai oleh Islam disebut Espanol in Three Religions, karena di samping Islam yang berkuasa, hidup damai dan sentausa warga  beragama Yahudi dan Nashrani. Sepanjang sejarah kehidupan Islam, tidak tercatat pengusiran apalagi pembantaian warga minoritas non muslim oleh mayoritas muslim. Yang ada adalah justru sebaliknya, pengusiran warga muslim oleh mayoritas non-muslim dimana-mana, seperti yang terjadi di Bosnia, Kosovo, Timor Timur dan sebagainya.

Masyhur akan keelokan budi orang-orang Islam dan ketangguhan sistem Islam dalam melindungi warga non-muslim, membuat Islam dengan mudah masuk ke berbagai wilayah yang semula penduduknya non-muslim. Amr bin Ash ketika menaklukkan Mesir yang ketika itu dikuasai oleh Romawi Kristen, dibantu oleh penduduk suku Koptik yang juga beragama Kristen. Pasukan Islam bahkan dielu-elukan di kanan kiri jalan oleh penduduk ketika masuk Polandia. Mengapa penduduk suku Koptik yang beragama Kristen justru membantu Amr bin Ash, panglima pasukan Islam, melawan penguasa Romawi yang juga beragama Kristen, dan mengapa pula penduduk Polandia yang non-muslim justru menyambut hangat kedatangan pasukan Islam? Jadi, bagaimana mungkin kini berkembang kekhawatiran  bahwa bila Syari’ah Islam diterapkan warga non-muslim akan hidup tertindas? Tuduhan ini jelas bertentangan dengan realitas ajaran Islam itu sendiri dan fakta sejarah di masa lampau.

Membentuk Masyarakat Beradab

Tuduhan bahwa penerapan Syari’ah Islam akan membawa masyarakat   kepada kehidupan masa lampau yang terbelakang, juga sepenuhnya salah. Islam tidak menolak modernisasi, bahkan bila dirunut dalam sejarah, justru Islamlah yang mengajari Barat yang sekarang dianggap sebagai kiblat modernisasi, ketika mereka tengah hidup di abad kegelapan, menemukan dasar-dasar kehidupan modern. Melalui pengembangan sains dan teknologi yang berkembang pesat di masa kejayaan Islam, peradaban Islam telah memberikan kontribusi luarbiasa bagi kemajuan Barat.

Islam melalui syari’ahnya bukan akan menghentikan modernisasi, melainkan meletakkan modernisasi agar tetap dalam kerangka pengabdian kepada Allah. Bila modernisasi diartikan sebagai pengembangan madaniah, yakni produk-produk teknologi yang bersifat material guna peningkatan mutu, keamanan, kenyamanan dan kemudahan dalam kehidupan manusia baik dalam bidang komunikasi, transportasi, produksi, kesehatan, pendidikan, perumahan, makanan, pakaian dan sebagainya, Islam sama sekali tidak keberatan. Dan itu akan diteruskan, bahkan akan ditingkatkan oleh Islam.

Artinya, manusia boleh saja menggunakan semua perangkat hasil pengembangan sains dan teknologi. Hanya saja, pola kehidupannya baik dalam konteks kehidupan pribadi, keluarga maupun masyarakat haruslah tetap dalam koridor syari’ah. Bukan modernisasi yang justru memperpuruk derajat manusia sebagaimana kini terlihat dalam kehidupan Barat, yang telah menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan-Nya. Barat telah salah mengartikan modernisasi. Apakah sebuah kemodernan bila wanita yang seharusnya dimuliakan justru dijadikan sebagai obyek seksual, berjalan melenggak lenggok memperagakan model rancangan baju yang nyaris telanjang di bawah tatapan ratusan pasang mata dan sorotan kamera atau dipajang dalam ruang kaca untuk kemudian dinikmati kemolekan tubuhnya dengan imbalan sekian lembar uang? Apakah juga sebuah kemodernan bila laki-laki dan perempuan berhubungan seksual tanpa ikatan pernikahan atau “pernikahan” tapi antara laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan?

Lalu apa bedanya dengan hewan? Bahkan hewan masih lebih baik, karena sejauh ini tidak ditemukan adanya gejala lesbianisme atau homoseksualisme di kalangan binatang yang paling jorok sekalipun. Apakah sebuah kemodernan, membiarkan sistem ekonomi berkembang liar dimana pemilik modal tak ubahnya seperti lintah yang menghisap darah manusia lain, atau orang mendapatkan keuntungan tanpa kerja sama sekali sebagaimana tampak dalam pembungaan uang? Ini adalah sebagian contoh yang akan diluruskan oleh syari’ah dalam proses modernisasi masyarakat.

Syariah akan menata kehidupan manusia dalam pemenuhan gharizah (naluri) dan kebutuhan jasmaninya secara tepat. Dengan syari’ah, manusia dituntun untuk  menjadikan halal dan haram sebagai tolok ukur perbuatan. Mengenal yang baik dan yang buruk, bahwa yang baik adalah yang dinyatakan baik oleh syari’ah dan yang buruk adalah yang dinyatakan buruk oleh syari’ah. Sehingga, di tengah-tengah kemodernan berkat kemajuan teknologi, manusia dapat hidup dengan penuh ketertiban, penghormatan terhadap nilai-nilai kesucian, penjagaan terhadap  martabat tinggi yang telah ditetapkan Allah SWT untuk  manusia, yang diletakkan dalam misi pengabdian sepenuhnya kepada-Nya.

Sikap  Terhadap Syari’ah

Menghadapi seruan penerapan Syari’at Islam, diakui tidak semua umat Islam di Indonesia mendukung. Ada yang tak acuh, ada pula yang bahkan menentang. Dengan berbagai alasan, kelompok yang menentang ini  pada intinya tidak setuju Syari’at Islam diterapkan di Indonesia. Menurut mereka, Syari’at Islam hanyalah untuk umat Islam dan itupun hanya bisa diterapkan dalam masyarakat yang homogen dimana semua  rakyatnya beragama Islam. Mereka juga beralasan, bila Syari’at Islam diterapkan, warga  non-muslim akan hidup tertindas. Dan lagi, menurut mereka penerapan Syari’at Islam akan membawa kemunduran  masyarakat. Modernisasi akan terhenti, dan masyarakat akan kembali hidup seperti layaknya masyarakat terbelakang.

Sikap tak acuh apalagi menentang seruan penerapan syari’ah tentu sangat tidak layak ditunjukkan oleh seorang muslim. Semua argumen yang dikemukakan oleh orang-orang yang menentang sangatlah tidak tepat. Syari’at Islam diturunkan bukan hanya untuk umat Islam saja, melainkan untuk seluruh umat manusia. Justru dengan syari’ah, kebebasan beragama dan beribadah bagi warga non-muslim akan lebih terjamin. Bukan hanya itu, jiwa, harta dan kehormatan mereka juga akan terlindungi. Pendek kata, Syari’at Islam akan memberikan kebaikan bagi semua manusia yang hidup di bawah naungannya. Syari’ah juga sama sekali tidak akan menghalangi modernisasi. Justru dengan syari’ah, modernisasi akan berkembang lebih terarah. Dengan syari’ah akan tercipta masyarakat modern yang beradab sebagaimana telah dijelaskan di muka.

Jadi, tidak ada alasan sedikitpun untuk menentang syari’ah. Apalagi bila itu dilakukan oleh seorang muslim. Seseorang yang mengaku dirinya muslim harus menjadi muslim secara keseluruhannya (kaaffah) “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu” (Qs. al-Baqarah 208).

Ia juga  harus menyadari bahwa keimanannya kepada Allah SWT bukan sekadar bermakna percaya akan adanya Allah, tapi harus disertai ketundukan pada segenap aturan-aturan-Nya. Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Adil. Allah adalah dzat yang Maha Mengetahui mana yang benar dan salah, apa yang baik dan apa yang tidak baik, mana yang menghasilkan maslahat, mana yang membawa mudharat. Hukum Allah bersifat abadi dan senantiasa cocok untuk diterapkan pada setiap masa  dan tempat.  Allah lah  yang menciptakan seluruh manusia, maka Dialah yang Maha Mengetahui tabiat manusia dan bagaimana menata kehidupan manusia sebagai pribadi maupun sebagai sebuah masyarakat. Dengan kata lain, keterikatannya pada syari’ah merupakan konsekuensi dari keimanannya kepada Allah SWT. Maka, pantas dipertanyakan kemusliman orang yang menolak syari’ah.

Demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan atas putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Qs. An-Nisa’: 65).

Sikap yang semestinya ditunjukkan oleh seorang muslim terhadap syari’ah adalah tunduk, sebagaimana disebut dalam surah An-Nuur ayat 51: “Sesungguhnya perkataan orang-orang yang beriman bila  mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum diantara mereka ialah ucapan ‘Kami mendengar dan kami patuh’. Merekalah orang-orang yang beruntung”.

Maka sesungguhnya tidak pantas bagi mukmin laki-laki dan perempuan, ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan syari’ah sebagai aturan, mereka mencampakkan syari’ah dan mencari aturan lain. “Dan tidak pantas bagi mukmin laki-laki dan perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata”. (Qs. al-Ahzab: 36).

Dengan ketundukan itu, seorang muslim yang baik dengan penuh keikhlasan akan melaksanakan semua syari’ah, sebagaimana firman Allah, “Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah. Apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (Qs. al-Hasyr: 7).

Orang yang menolak syari’ah, masih pantaskah ia menghirup oksigen yang diciptakan Allah, masih pantaskah ia memakan rizki Allah, masih pantaskah ia tinggal di bumi Allah, dan masih pantaskah ia hidup dari nyawa yang diberikan Allah? Jadi, sungguh tidak ada alasan untuk menolak syari’ah.

Sementara, tanpa Syari’at Islam bisakah kita berharap munculnya tatanan kehidupan yang lebih baik? Atau bisakah kita berharap mendapat kebaikan dari agama Islam yang diyakini datang untuk membawa rahmat? Bila tidak, mengapa kita masih suka berlama-lama hidup tanpa syari’ah seperti sekarang? Satu sisi kita mengeluh: hidup makin susah dan makin tidak aman, harga apa-apa naik, kemaksiyatan merajalela, pornografi mudah dijumpai, remaja makin brutal, birokrat makin tidak bisa diharap, tapi di sisi lain mengapa kita mendiamkan begitu saja Syari’at Islam yang kita yakini pasti bisa menyelesaikan semua masalah dan mengatur kehidupan masyarakat dengan sebaik-baiknya, teronggok bagai barang antik tidak direalisasikan dalam kehidupan nyata? Itu sama saja dengan seseorang yang marah-marah ketika tubuhnya didera penyakit, tapi obat di tangan hanya dilihat-lihat saja. Mana bakal sembuh?

Penerapan Syari’ah Secara Kultural dan Struktural

Dari pemaparan di atas jelaslah bahwa peran negara  mutlak adanya karena ia akan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan syari’ah secara keseluruhan, termasuk pelaksanaan syari’ah oleh kelompok dan individu. Negaralah yang memiliki seluruh kekuatan dan wewenang untuk menerapkan hukum, memaksakan dan menghukum yang melanggar. Maka, pelaksanaan syari’ah oleh negara sesungguhnya merupakan  perkara yang sudah diketahui kewajibannya dalam Islam (ma’lumun mina al-dini bi al-dharurati) sebagaimana telah diketahuinya kewajiban shalat, zakat, haji dan sebagainya. Bahkan sejatinya, berdirinya negara dengan segenap struktur dan wewenangnya dalam kacamata Islam memang adalah untuk menyukseskan pelaksanaan syari’ah. Inilah penerapan syari’ah secara struktural. Maka perjuangan bagi penegakan syari’at Islam oleh negara bagi seorang muslim juga merupakan sebuah kemestian. Diyakini bahwa tidak akan pernah ada kemuliaan kecuali dengan Islam, dan tidak ada Islam kecuali dengan syari’at, serta tidak ada syari’at kecuali dengan adanya negara.

Tapi keberhasilan penerapan syari’ah oleh negara sesungguhnya sangat ditentukan oleh ketaatan terhadap syari’ah pada individu dan kelompok karena pilar negara tetaplah individu-individu. Tapi bukan sembarang individu, melainkan individu muslim yang bangkit. Syekh Taqiyyudin an-Nabhani dalam kitab Nidzamu al-Islam menyatakan bahwa kebangkitan yang hakiki harus dimulai dengan perubahan pemikiran (taghyiru al-afkar) secara mendasar (asasiyan) dan menyeluruh (syamilan) menyangkut pemikiran tentang kehidupan, alam semesta dan manusia, serta hubungan antara kehidupan dunia dengan sebelum dan sesudahnya. Pemikiran yang membentuk pemahaman (mafahim) akan mempengaruhi tingkah laku. Akan terwujud tingkah laku Islami bila pada diri seorang muslim tertanam pemahaman Islam. Dengan demikian kebangkitan umat Islam adalah kembalinya pemahaman seluruh ajaran Islam ke dalam diri umat dan terselenggaranya pengaturan kehidupan masyarakat dengan cara Islam.

Untuk itu diperlukan dakwah. Dan dakwah di tengah kemunduran umat seperti sekarang ini – akibat tidak adanya kehidupan Islam – menurut Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Manhaj haruslah berupa “dakwah  untuk melanjutkan kehidupan Islam” (da’wah li isti’nafi al-hayati al-islamiyyah). Yakni dakwah  untuk ‘audatu al-muslimin ila al-‘amal bi jami’i ahkami al-Islam min aqaidin, ibadatin …… bi thariqi iqomati al-khilafah (mendorong umat Islam bagi kembalinya penerapan seluruh hukum-hukum Islam baik menyangkut aqidah, ibadah, makanan minuman, pakaian, akhlaq, uqubat maupun muamalah (sosial, budaya, pendikan, politik dan ekonomi)   dengan jalan menegakkan kembali daulah Islamiyyah.

Dakwah semacam ini harus dilakukan secara berjamaah (jamaiyyan) atau berkelompok. Karena setinggi apapun ilmu dan kapasitas seseorang serta sebanyak apapun aktivitas yang dia lakukan, tidaklah mungkin mampu mencapai tujuan dakwah yang dimaksud bila dakwah dilakukan secara sendirian (fardiyan). Dan jamaah atau kelompok yang dimaksud  haruslah bersifat politis (kutlah siyasiy) oleh karena tujuan dakwah, yakni tegaknya kembali kehidupan Islam, adalah tujuan politik. Jamaah atau kelompok yang tidak mengkonsentrasikan dakwahnya di lapangan politik, berarti tidak mengarah pada tujuan dakwah yang dimaksud.

Dari segi individu, dakwah kepada umat bertujuan untuk membentuk seorang muslim yang berkepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah). Yakni seorang yang berpikir dan bertindak secara Islami. Ia tidak berpikiran kecuali sesuai dengan ajaran Islam, dan tidak bertindak kecuali sesuai dengan  Syari’at Islam. Harus ditanamkan kepada umat pemahaman aqidah yang benar dan kuat beserta segenap konsekuensi dari orang yang telah  beraqidah Islam, yakni taat pada syari’at (an-Nisaa’ 65/al-Ahzab 33/al-Hasyr 7). Juga, ditanamkan pemahaman atas Syari’at Islam itu sendiri, agar dengannya ia mengerti apa tujuan hidup ini dan bagaimana cara menjalaninya dengan baik. Misalnya ia harus beribadah secara khusyu’, memilih pakaian yang menutup aurat, makanan yang halal, bergaul secara Islami serta bermuamalah secara syar’i. Ia bertindak Islami di masjid, demikian juga semestinya ketika berada di kantor, di pasar dan di jalan-jalan. Ia Islami ketika shalat, begitu semestinya ketika berdagang dan ketika bergaul dengan orang lain. Inilah penerapan syari’ah secara kultural. Lebih jauh lagi, dakwah   diharapkan menyadarkan umat bahwa seharusnya masyarakat ini diatur hanya dengan Islam.

Sementara secara komunal, dakwah kepada umat bertujuan agar dari muslim yang berkepribadian Islam tadi terbentuk kekuatan dan dorongan untuk melakukan perubahan masyarakat ke arah Islam hingga terbentuk masyarakat Islam yang diindikasikan dengan diterapkannya Syari’at Islam di bawah naungan Daulah Islamiyyah. Harus tumbuh kesadaran umum (al-wa’yu al-Islamy) di tengah masyarakat bahwa hanya di bawah naungan daulah  Islamiyyah sajalah seluruh hukum Islam dapat ditegakkan dan segenap umat dapat disatukan. Dan hanya dengan syari’at saja semua problematika umat dapat diselesaikan dengan cara yang benar, saat mana kerahmatan yang dijanjikan Allah akan terwujud bukan hanya kepada orang Islam tapi juga buat umat selain Islam karena Islam memang memberikan rahmat bagi sekalian alam.

Tidak sempurnanya pembinaan terhadap umat hanya akan menghasilkan kepribadian yang tidak utuh. Ia muslim tapi tidak shalat, bahkan dengan mudah menggadaikan kemuslimannya demi sebungkus supermie atau untuk wanita/laki-laki yang dicintainya. Tidak sedikit kita jumpai orang yang dengan ringannya meninggalkan shalat, tidak menuaikan zakat dan melalaikan puasa Ramadhan. Atau, kalau ibadahnya bagus, tapi ia tidak atau kurang memperhatikan aturan Islam di bidang lain. Seolah Islam hanya mengatur masalah ibadah, dan ke-Islamannya terbatas hanya pada masalah ibadah saja. Di luar itu, ia merasa bebas berbuat. Ia misalnya,  rajin shalat tapi juga tak sungkan makan riba.  Ia bangga dengan titel hajinya, tapi bangga pula dengan pemikiran sekuler dan jiwa nasionalisnya; atau bangga dengan kecantikan rambut dan tubuhnya yang dibiarkan terlihat orang lain.

Ketika di Mina ia melempar jumrah sebagai simbolisasi  perlawanan terhadap setan, tapi sepulang dari Mina ia menjadi teman, bahkan budak setan. Ia menentang gerakan pemurtadan, tapi menentang pula gerakan yang akan menegakkan Syari’ah Islam di tengah masyarakat. Ia bangga dengan kemuslimannya, tapi tidak gelisah sedikitpun tatkala demikian banyak aturan Islam yang ditinggalkan, atau tidak risih melihat kehidupan diatur dengan hukum yang tidak bersumber dari agama yang dipeluknya itu. Ia tahu bahwa  sesama muslim bersaudara, tapi tidak sedikitpun ia peduli melihat pembantaian muslim di Palestina, Afghanistan, Moro dan sebagainya. Bila demikian, lantas dimana makna pernyataan “shalatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah semata Tuhan semesta alam”, juga kekaffahan yang diminta al-Qur’an?

Pembinaan kepada umat yang tidak sempurna juga akan menghambat terbentuknya kehidupan Islam. Karena umat itu sendiri yang akan menjadi batu penghalang upaya ke arah sana. Siapa lagi yang berani menghalangi proses Islamisasi, apalagi di negeri dimana umat Islam mayoritas, bila bukan dari kalangan umat Islam sendiri (dengan berbagai argumen batil) atau kalangan non Islam dengan lidah dan tangan (tokoh) umat Islam. Isu “pluralisme, liberalisme, primordialisme, fundamentalisme atau terorisme,” dan sebagainya, selama ini ternyata dilontarkan  oleh tokoh-tokoh Islam. Dan sasarannya tidak lain adalah kelompok Islam yang dinilainya “mengandung semangat Islamisasi”. Kepala sekolah yang dulu menghambat jilbab di SMA, ternyata juga muslim.

Pada era perang fisik, kita terjun dengan membawa senjata yang dilengkapi dengan berbutir-butir peluru dan mesiu. Tapi kini yang kita  hadapi bukanlah perang fisik (meski perang fisik berlangsung di sejumlah tempat) melainkan perang pemikiran. Maka mestinya kita terjun sebagai pasukan Islam dengan menembakkan peluru pemikiran Islam, memerangi musuh yang membawa peluru pemikiran sesat. Mulut dan tangan adalah senjata kita, dengan kantong peluru berupa pemahaman Islam yang shahih di otak kita. Sebagaimana Rasulullah SAW membangun peradaban Islam dengan mulutnya. Mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islam. Dalam perang ini musuh Islam menggunakan segenap tenaga dan upaya (jaringan birokrasi, media massa dan sebagainya), maka diperlukan lebih banyak lagi pasukan Islam yang bergerak di tengah umat untuk menyadarkan umat dari tidurnya yang panjang. Hanya melalui umat yang sadar saja bisa diharapkan kebangkitan  umat yang hakiki. Dan dari kebangkitan yang hakiki itu, terlahir masyarakat Islam modern yang diridhai Allah SWT.

Strategi Penerapan Syari’ah

Penerapan syari’ah secara struktural bisa menempuh dua strategi pendekatan, yakni pendekatan inkremental parsial dan fundamental radikal. Pendekatan inkremental parsial dilakukan untuk menerapkan syari’ah pada aspek-aspek yang mungkin dilakukan. Misalnya tentang kewajiban zakat, menutup aurat, pemberantasan pekat (penyakit masyarakat) dan sebagainya. Ini dilakukan terutama mengingat adanya kendala politis, ideologis dan sosiologis di wilayah garap. Pendekatan semacam ini sangat aplikatif, bisa dilakukan secara tenang dan relatif tidak terlalu menimbulkan gejolak. Tapi tidak akan menghasilkan penerapan secara kaffah sebagaimana yang semestinya. Oleh karena itu, harus ada kesadaran pada semua komponen penggerak, bahwa keberhasilan pelaksanaan syari’ah melalui pendekatan ini harus dianggap sebagai stepping stone dari langkah kecil untuk menuju langkah besar, yakni penerapan syari’ah secara kaffah.

Penerapan syari’ah melalui pendekatan ini memerlukan prasyarat, yakni ketegasan filosofi mengenai syari’ah, konsepsi syari’ah (artinya harus tergambar jelas bagaimana konsep syari’ah mengenai berbagai hal, misalnya konsep mengenai ekonomi, pendidikan, politik dan sebagainya) dan aplikasi untuk solusi (untuk menunjukkan kemampuan syari’ah menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat). Secara teknis, dibutuhkan kemampuan legislasi (ke dalam berbagai bentuk perundang-undangan), institusi (kelembagaan), sumberdaya insani (maka diperlukan pendidikan, pelatihan dan pembinaan) dan strategi (karena ibarat bekerja di rumah orang lain). Wallahu’alam bi al-shawab.

Oleh:

Muhammad Ismail Yusanto

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia