Mengamalkan syari’at Islam adalah hak dan kewajiban setiap Muslim. Karenanya tidak ada ruang dan waktu yang dapat membatasi seseorang untuk memperjuangkan tegaknya Islam. Semangat orang Islam untuk memperjuangkan agamanya, memang tidak pernah berhenti, dari dahulu, kini, dan nanti. Bahkan akhir-akhir ini terlihat jelas kian bervariasinya pola perjuangan yang ditawarkan, dan kian beraneka-ragamnya tampilan yang disodorkan.

Satu di antara pola yang ditempuh adalah dengan berlomba-lomba mendirikan partai politik. Melalui kendaraan-kendaraan politik ini lah, aneka propaganda sebagai barang dagangan mulai dijajakan kepada umat Islam. Tujuannya, tentu hendak menjadikan umat Islam sebagai tuan di negerinya sendiri, penguasa di negerinya sendiri, dan bahkan apapun bidang yang ada di negerinya harus di tangan orang-orang Islam yang konsen dengan agamanya.

Pola perjuangan seperti ini, dengan lantang mereka gumamkan sebagai perjuangan agama lewat jalur politik, dan mereka marah bila dikatakan meraih kepentingan politik memperalat agama. Karena yang kedua ini mengesankan tindakan menjual agama untuk kepentingan politik, sedangkan yang pertama memberikan bobot ‘jihad’ bagi yang bersangkutan dalam mengekspresikan keyakinan agamanya. Kedua pola ini sulit dibedakan dalam praktek, sehingga riskan dan sangat mudah di susupi kaum munafik.

Fenomena bertebarannya kaum munafik yang menjual agama demi ambisi politik, bukanlah hal baru. Karena pola semacam ini sudah menjadi ciri kaum Yahudi dan Nashrani sepanjang zaman. Mereka selalu mempropagandakan diri untuk mengisi aktivitas politik dengan agama walaupun yang mereka lakukan justru menjual agama untuk kepentingan politik. Firman Allah Swt:
“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar) dengan memutar balikkan kebenaran itu”. (Qs. An Nisaa’ ayat 44).

Karakteristik para pendeta Nasrani dan pastur Yahudi pada zaman permulaan Islam itu, rupanya di adopsi oleh aktivis partai Islam di Indonesia kini. Mereka selalu mengedepankan argumentasi-argumentasi keagamaan untuk membujuk masyarakat mengikuti pola pikir mereka yang sudah menyimpang dari syari’at Allah. Mereka menggunakan alasan membangun kemaslahatan dan menjaga suasana aman-damai, walaupun di dalamnya merajalela kemaksiatan dan kemungkaran. Oleh karena itu mereka mencoba membangun ideologi baru atas nama agama yang secara sangat mudah dapat dijadikan slogan yang merakyat.

Misalnya, kemaslahatan umum harus didahulukan daripada melakukan pencegahan atas kemungkaran. Atau, bilamana jumlah korban yang dimunculkan sebagai akibat pemberantasan kemungkaran sangat besar dan mengancam stabilitas masyarakat, maka pencegahan terhadap kemungkaran tidak perlu disuarakan apalagi dilakukan.

Cara berpikir seperti ini merupakan ciri pendeta dan pastur Yahudi dan  Nasharani. Untuk itu kaum pendeta Yahudi dan Nashrani tidak merasa berdosa untuk melakukan perubahan-perubahan tertentu, bahkan memalsukan ayat-ayat Taurat dan Injil, sehingga yang asli menjadi hilang. Perilaku mereka ini Allah sebutkan dalam surat An Nisaa’ ayat 46
“Diantara orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya”. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah, tapi semoga kamu tidak dapat mendengar”. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina (sudilah kiranya kamu memperhatikan kami), dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.”

Belakangan kita mendengar mantan Presiden PKS (dulu PK), Hidayat Nurwahid tentang orang yang tidak ikut pemilu berarti melakukan tindakan mubazir, dan mubazir adalah perbuatan syetan. Pernyataan ini merupakan modernisasi prilaku kuno pendeta dan pastur yang diadopsi PKS.

Pertanyaannya, sejak kapan Islam mewajibkan pemilu, sehingga bila tidak ikut pemilu dianggap melakukan perbuatan mubazir? Atas dasar apa menggunakan terminologi Qur’an, mubazir dalam pengertian membuang suara karena tidak ikut pemilu?

Sebagai alumni perguruan Tinggi Islam Madinah, Hidayat Nurwahid sudah pasti menyadari bahwa ayat tabzir yang dipakainya itu adalah berkaitan dengan ketaatan untuk tidak menggunakan harta yang halal untuk berbuat haram. Karena itu Ibnu Abbas menjelaskan pengertian mubazir pada ayat ini adalah dengan mengatakan mempergunakan uang sekalipun satu dirham untuk hal-hal yang haram, termasuk perbuatan mubazir. Jadi, bukan menggunakan harta untuk melakukan hal-hal yang halal.

Dalam kaitan ini, yang harus dijelaskan Nurwahid, hukum asal pemilu itu wajib atau haram? Sebab tidak ada istilah agama, bahwa meninggalkan sesuatu yang wajib dikatakan mubazir, tetapi justru dosa. Sebaliknya, melanggar sesuatu yang haram sudah pasti melakukan perbuatan mubazir. Oleh karena itu, membawa-bawa fatwa agama demi kepentingan partai seperti yang dilakukan oleh Nurwahid adalah bagian dari karakter Yahudi dan Nashrani yang disebutkan pada ayat 44 dan 46 surat An Nisaa’ di atas. Dengan demikian, PKS tidak lagi berhak dikatagorikan sebagai perjuangan agama melalui politik, tetapi justru sebaliknya, memperjuangkan politik memperalat agama.

Hidayat Nurwahid pasca penobatan sebagai ketua MPR menyatakan dia tidak akan memperjuangkan Syari’at Islam menjadi hukum negara di Indonesia. Tetapi menjelang pemilu legislatif 2009, Hidayat Nurwahid merengek minta fatwa berdasarkan Syari’at Islam tentang golput. Sikap seperti ini cerminan yang jelas dari seorang hipokrit tulen yang disinyalir oleh surat an Nisaa’ ayat 65. Namun begitu kelompok semacam ini harus tetap harus kita nasehati agar kembali ke jalan Allah seperti termaktub dalam an Nisaa’ ayat 63. Salah satu bentuk nasihat kita kepada Hidayat Nurwahid dan PKS berwujud tulisan ini.

Apa yang dilakukan oleh PKS ini, juga sudah lama dilakukan oleh partai yang menggunkan Islam sebagai labelnya. Dengan demikian, seharusnya para aktivis partai introspeksi diri, apakah mereka ini menjadi bagian dari hamba Allah yang shalih atau kah merupakan kelompok yang berpura-pura shalih untuk membawa hamba Allah yang shalih kearah jalan yang salah?