bismillahJika yang kita tanam adalah padi, maka yang akan tumbuh tentulah padi. Namun, bila pohon berduri yang kita tanam, maka pohon berduri pula yang akan tumbuh. Bagaimana bila tidak ada yang kita tanam, tentu tidak akan ada yang tumbuh. Oleh karena itu, jika seorang pemimpin negara menanam kebaikan dan mengajak rakyatnya hidup mengikuti cara Nabi, yaitu mengamalkan syari’at Islam, pastilah dia akan memanen hasil yang bagus di akhirat.

Sebaliknya, jika dia melakukan tindakan yang bertentangan dengan syari’at Islam, berlawanan dengan gaya dan jalan hidup yang ditempuh Nabi, sehingga tumbuh berbagai kemungkaran dan kemaksiatan, pastilah pohon berduri yang akan tumbuh di dunia, dan hanya duri pula yang akan dipanen di akhirat kelak.

Bersiaplah para Capres dan cawapres, jika di dunia banyak tertawa niscaya di akhirat akan banyak menangis. Renungkan perbantahan antara rakyat dan penguasa di neraka, akibat kelalian mereka di dunia. Ilustrasi Qur’ani (Al-Mukmin, 40: 47-di bawah ini, dapat menjadi pelajaran berharga:
“Dan ingatlah, ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka mustadh’afin (rakyat lemah) berkata kepada mustakbirin (penguasa-penguasa sombong): “Sesunguhnya kami pengikut-pengikutmu kala di dunia. Dapatkah kamu menghindarkan kami, sehari saja, dari azab api neraka?”
Mendapat gugatan dari mantan rakyatnya, penguasa berkata: “Kita semua sama-sama berada dalam neraka –kami pun tidak dapat menolong diri sendiri-, karena Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hambaNya.
Merekapun sepakat memohon jasa pertolongan pada sipir penjaga neraka jahannam. “Mohonkanlah pada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab dari kami, barang sehari saja.”
Sipir neraka menjawab: “Apakah belum datang kepadamu para rasul yang membawa informasi?”
“Benar, sudah datang,” jawab para terpidana neraka itu.
“Berdo’alah kamu. Dan do’a orang-orang kafir itu sia-sia belaka,” jawab sipir neraka tegas. (periksa Qs. 40:47-50).
“Dan alangkah hebatnya bila kamu menyaksikan orang-orang yang zalim itu dihadapkan pada Allah Swt. Rakyat awam menyesal mengikuti ajaran dan sistem hidup penguasa zalim.
Mereka berkata: “Sekiranya tidaklah karena ajakan dan doktrin kamu, tentulah tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.”
Penguasa zalim menjawab sergahan rakyat yang tertipu itu. “Kamikah yang menghalangi kamu mengikuti petunjuk setelah petunjuk itu dating padamu? Tidak, melainkan kamulah sebenarnya orang yang durhaka.”
Tidak ingin dipojokkan, setelah merasa tertipu di dunia, rakyat lemah itu berkata pada mantan penguasanya: “Sebenarnya, propaganda dan tipu muslihat kamu yang disampaikan siang dan malam yang menghalangi kami. Ketika kamu menyeru kami supaya kafir kepada syari’at Allah dan menyekutukan-Nya.”

Akhirnya masing-masing pihak menyatakan penyesalannya, tatkala hukuman akhirat sudah di depan mata. Lalu Allah Swt membelenggu leher mereka, dan mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (periksa Qs. 34:31-33).