“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjuki kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula jalan mereka yang sesat (Nashrani). (Qs. Al-Fatihah, 5-7).

SETELAH melalui perdebatan alot, Sinode Umum -badan yang membuat kebijakan di Gereja Anglikan Inggris–menyetujui rumusan tentang petunjuk resmi penyebaran agama Kristen, Kamis (12/2). Keputusan diambil dengan suara mayoritas.
Para anggota Sinode mendapat penjelasan bahwa Gereja Anglikan Inggris tak bermaksud mengajak pemeluk agama lain menjadi Kristen melalui upaya Kristenisasi yang agresif dan konfrontatif. Misi ini bertujuan menegaskan kembali keyakinan historis Gereja bahwa Kristen menawarkan kebenaran sejati.

“’Setiap orang dalam pemikiran saya memiliki potensi untuk beralih,” kata Rev Nezlin Sterling, sekjen Majelis Perjanjian Baru yang berbasis di London, Inggris. Keyakinan itulah yang dicamkan oleh Sterling. Dan, pemikiran yang sama pula dianut oleh Gereja Anglikan di Inggris.

Sebagai agama resmi negara Inggris, Gereja Anglikan justru mendorong terciptanya hubungan baik dengan berbagai kelompok agama di tengah kehidupan beragama di Inggris yang kian beragam. Yang menjadi perdebatan para anggota Sinode adalah bagaimana melakukan Kristenisasi itu. Seperti apa cara terbaik bagi umat Kristen mendekati mereka yang tidak beragama ataupun yang beragama lain?

Oktober tahun lalu, Gordon Showell-Rogers, sekjen Persekutuan Evangelis Eropa (EEA), mengajak Muslim di Eropa beralih menjadi pengikut Kristiani. Imigran Muslim di benua itu dinilainya berpotensi sebagai ‘celah evangelis’.
Namun, upaya Kristenisasi lebih maju dilakukan oleh organisasi misionaris neo-evangelis. Dengan cara-cara tradisional, tapi lebih menusuk daya jangkaunya, mereka membidik Muslim di Asia. Melalui program radio berjudul Kasih Sayang Muslim dan Penghormatan Terhadap Yesus Kristus, kelompok misionaris ini telah masuk ke jantung-jantung Muslim di Asia.

”Kami meminta Tuhan setiap orang untuk berdoa dan melindungi kami sebagaimana kami berupaya membawa cinta kasih Yesus ke dunia Muslim,” kata Presiden Far East Broadcasting Company (FEBC), Gregg Harris, seperti dikutip Islamonline dari Mission Network News (MNN), Kamis (12/2).

”FEBC telah mengudara di dunia Muslim sejak beberapa tahun silam. Dan, kami menemukan, jika Muslim mendengar cinta kasih Tuhan, mereka semakin ingin tahu lebih dalam,” kata Harris.

FEBC merupakan perusahaan radio Kristen berskala internasional yang berdiri sejak 1945. Diinisiasi oleh para veteran Perang Dunia Kedua, siaran radio FEBC makin berkembang melalui program transmisi lokal yang ditambatkan di berbagai penjuru Asia.
Tujuannya, program mereka didengarkan oleh jutaan warga Asia. Saluran radio yang kini telah dialihbahasakan dalam 154 bahasa itu mengincar wilayah-wilayah Muslim yang bermasalah, miskin, dan dilanda bencana.

Rencana jangka panjangnya, memasukkan program-program Kristiani hingga ke relung-relung rumah tangga Muslim di seluruh dunia. Saat ini, program misionaris bernama Proyek Isa itu menargetkan rumah tangga Muslim di Indonesia, Bangladesh, India, dan Pakistan.
Wajar bila FEBC menargetkan empat negara itu. Sebab, separuh populasi Muslim dunia mendiami wilayah tersebut. Jaringan radio FEBC yang tersebar di 54 negara, baik dalam saluran gelombang FM dan AM, kata Gregg, kini sedang dalam tahap penyelesaian Proyek Isa di Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Bahkan, siaran radio di Tanah Air telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa daerah.

Dengan mengandalkan total 123 titik transmitter yang dimiliki di seluruh dunia, FEBC kini juga menargetkan negara mayoritas Muslim di dataran Asia Tengah, yakni Kazakhstan. ”Banyak orang percaya jika Kazakhstan menjadi kunci berpengaruh dalam iklim keberagamaan di Asia Tengah,” kata Harris yang telah bekerja selama 10 tahun di Trans World Radio–siaran misionaris internasional yang mempunyai studio di 40 negara.

Tema besar program misionaris yang mereka emban adalah Proyek Asia. Pemilihan nama itu bukan tanpa alasan. Menurut Harris, nama Proyek Asia sengaja dipilih setelah melalui kajian mendalam dan menyeluruh.

“’Yesus bukanlah nama asing bagi Muslim,”’ terang Harris yang 17 tahun lamanya berkutat dengan dunia radio. Muslim mempercayai Yesus sebagai nabi dengan sebutan Isa. Nabi Isa, ujarnya, adalah putra Maryam yang dilahirkan dalam keajaiban.
FEBC meyakini pula, dengan menggunakan nama Isa seperti tercantum dalam Alquran, akan dapat menimbulkan ketertarikan Muslim di Asia. ”Kami cukup beruntung untuk dapat mengatakan kepada mereka, ‘Hei inilah kebenaran Tuhan sesungguhnya. Anda dapat mengenal dia (Isa)’,” kata Harris yang juga menjadi direktur program Proyek Isa.

Mengapa siaran radio dipilih sebagai media dalam program Kristenisasi Proyek Isa itu? Harris memaparkan alasannya: efektif dan efisien. Dengan menggunakan saluran radio, sebuah pesan Injil bisa tersampaikan kepada sekelompok orang ataupun komunitas di pelosok daerah yang sulit terjangkau. Dengan radio, kendala geografis bisa diatasi. Lebih efektif dan memaksimalkan jangkauan.
Berbeda halnya jika membagi-bagikan Injil satu per satu ke daerah-daerah pedalaman. Akan lebih sulit dan tentu membutuhkan waktu dan biaya. Organisasinya, secara teliti, kemudian mendistribusikan peralatan radio kepada mereka yang dianggap berpotensi menyimak program radio FEBC. ”Kami tak hanya membagikan radio secara gratis, tapi kami juga selektif memberikannya hanya kepada mereka yang benar-benar tertarik dan membutuhkan,” terang Harris.

Namun, proyek Kristenisasi ini bukannya gratisan. Mereka rela mengeluarkan investasi tak sedikit demi mencapai tujuan mengkristenkan warga Asia. Dana yang mereka gelontorkan terbilang substantif untuk ukuran men-set up program saluran radio. FEBC menganggarkan 30 dolar AS untuk satu radio. Untuk 1.000 radio, jelas dibutuhkan 30 ribu dolar AS.
Bukannya tanpa risiko mengadakan proyek penginjilan di daerah mayoritas Muslim dan Hindu yang berpopulasi 2.874.115.000 ini. Dengan alasan tersebut, “’Kami mesti benar-benar berdoa bagi mereka yang menyalurkan dan menerimanya.”

Setelah orang-orang kafir itu gagal meraih ambisinya untuk memurtadkan umat Islam di Indonesia, melalui cara konfrontasi. Kini Proyek Isa untuk pemurtadan Muslim di Asia, menggunakan cara-cara lunak dan manusiawi, sebagai gaya baru untuk missi kristenisasi. Missi kuffar ini, membuktikan kebenaran ayat-ayat Allah Swt:
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan dating kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Qs. Al-Baqarah, 2:120).